Wali Allah Bertingkat-tingkat, Ada Juga yang Bermaksiat

 Wali Allah Bertingkat-tingkat, Ada Juga yang Bermaksiat

KIBLAT.NET – Secara defenisi, sebutan wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong agama Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa.” (Yunus: 62 – 64)

Wali-wali Allah terbagi dalam tiga tingkatan berdasarkan amalan mereka dalam mendekatkan diri kepada Allah, ketiga tingkatan tersebut adalah:

Pertama: As-Sabiquuna Fil Khairat (orang-orangg yang senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan). Maksudnya, mereka yang melaksanakan kewajiban, meninggalkan perbuatan haram, menjaga perbuatan sunnah dan sealu berusaha menjahui perbuatan-perbuatan makruh.

Kedua: Al-Muqtashid (orang-orang yang sederhana dalam melakukan kebaikan) maksudnya, orang-orangg yang mereasa cukup dengan melaksanakan kewajiban, meninggalkan perbuatan haram, walaupun ia belum bisa menjaga kesinambungan amal-amal sunnah dan tidak selalu waspada terhadap perbuatan-perbuatan makruh.

Ketiga:  Az-Zhalimu Linafsih (orang-orang yang menganiaya diri sendiri)
Maksudnya adalah orang yang meninggalkan  sebagian kewajiban, melaksanakan sebaggian perbuatan haram namun tidak sampai menyebabkannya kufur.

Ketiga tingkatan tersebut sesuai dengan penjelasan dalam Al-Qur’an surat Fathir ayat 32:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fathir: 32)

Jika manusia memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam hal keimanan dan ketaqwaan, maka perbedaan tingkatan itu juga tedapat di kalangan wali-wali Allah.  Demikian pula musuh-musuh Allah juga memiliki tingkatan yang berbeda dalam kemusyrikan, kekufuran dan kemunafikan. Yaitu sesuai dengan rasa permusuhan mereka kepada Allah.

Jadi, tidaklah termasuk syarat kewalian itu harus maksum (tidak pernah melakukan perbuatan dosa),atau tidak pernah salah. Terkadang mereka juga terjerumus dalam kemaksiatan, akan tetapi tingkat kemaksiatan tersebut tidak menghilangkan sifat kewalian Allah dari dirinya. dengan demikian, krtiteria kewalian itu terletak pada sejauh mana komitmen seseorang dalam melaksanakan syariat Allah ta’ala. 

Wallahu a’lam bish  shawab!

Disadur dari kitab Al-Madhkhal Lid Dirasat ‘Aqidah Islamiyah, Karya Dr.Ibrahim Muhammad Bin Abdullah Al-Buraikan.

Kredit : kiblat.net

Ulasan

Catatan Paling Popular

[PETUA] Zakar Panjang, Besar dan Air Mani Pekat dan Banyak.

KEPENTINGAN MENGULUM ZAKAR SUAMI

11 TANDA-TANDA WANITA BERNAFSU YANG MELAMPAU YANG HARUS ANDA KETAHUI..

Manfaat suami Menghisap Payudara Isteri

TEKNIK SPONTAN MENGGODA ISTERI

Sebab Sebenar Kenapa Suami Suka Peluk Isteri, Tahu Tak Apa Maksudnya.?

Cara Remove Friends Tak Aktif di Facebook

Antara Khilafah Islam dan Kemunculan Imam Mahdi

Khutbah Imam Katolik Yang Menggemparkan Dunia..

Catatan Popular Minggu Lepas

[PETUA] Zakar Panjang, Besar dan Air Mani Pekat dan Banyak.

KEPENTINGAN MENGULUM ZAKAR SUAMI

Manfaat suami Menghisap Payudara Isteri