Satu Visi dalam Dakwah dan Jihad


Tidak ada yang memungkiri bahwa setiap muslim wajib untuk berdakwah. Dakwah merupakan sarana kaum muslimin untuk senantiasa meraih kebaikan dan menjadi sebaik-baik umat. Dalam berdakwah,  kaum muslimin diperintahkan untuk selalu bersatu membangun kerja sama dan menghindari segala bentuk perpecahan.

Namun dalam tataran praktisnya, menyatukan umat dalam satu wadah agar searah dalam berdakwah, bukan sesuatu yang mudah. Masing-masing jamaah memiliki pandangan yang berbeda-beda ketika menentukan prioritas amal dalam berdakwah untuk mengembalikan kejayaan Islam.

Sehingga, kita mendapati masing-masing jamaah memiliki prioritas sendiri dalam berdakwah.

Sebagian mereka ada yang mengedepankan reformasi pendidikan, sebagian yang lain ada yang berorientasi pada politik dan menyebarkan opini membentuk khilafah, selain itu ada juga yang mengutamakan tabligh dan pembinaan spitual individu, kemudian ada juga yang memulai dari tarbiyah wa tashfiyah (pembinaan dan penyucian diri) dan beragam pandangan lainnya.

Tak ada yang salah dengan perbedaan tersebut, asalkan dalam terapannya tidak keluar dari pakem syariat. Namun yang menjadi problem adalah, ketika masing-masing kelompok memiliki sikap egois dan menganggap hanya jamaahnya yang paling benar, sementara apa yang dilakukan oleh jamaah lain dianggap salah dan menyimpang dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, tak jarang dari mereka ada oknum-oknum yang suka melemparkan tuduhan-tuduhan miring terhadap jamaah lain.

Fenomena tersebut menandakan bagaimana kondisi umat ini jauh dari tuntunan Al-Qur’an. Karena dalam amalan dakwah sendiri, Allah ta’ala melarang keras dari segala bentuk perpecahan dan memerintahkan untuk saling bersinergi dalam menyerukan Islam. Bukan untuk saling menciptakan jurang pemisah antara satu jamaah dengan jamaah yang lain.


Dakwah dan Jihad, Sarana Menjaga Eksistensi Islam

Dakwah adalah jalan para nabi dan rasul dalam menyampaikan risalah Allah. Berupaya mengajak manusia untuk kembali kepada fitrahnya, yaitu beribadah kepada Allah semata. Kemudian jalan ini terus dilanjutkan oleh umatnya, sehingga Islam tersebar luas di seluruh penjuru dunia.

Dakwah menjadi cara efektif dalam transformasi ilmu terhadap mereka yang belum mengetahui tentang syariat, menyebarkan ide-ide Islam, menyingkap syubhat yang mengatasnamakan agama, serta meng-counter pemikiran yang keliru tentang Islam.

Ringkasnya, dakwah adalah salah satu sarana yang cukup efektif untuk menjaga eksistensi Islam serta mencegah segala bentuk kemungkaran. Sehingga meniadakan dakwah, sama saja menolak tegaknya Islam dan membiarkan kekufuran.

Namun sayang, tidak semua manusia dapat menerima seruan dakwah. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang justru meresponnya dengan penolakan serta melakukan upaya untuk menghancurkan Islam. Oleh sebab itu, penjagaan terhadap Islam tidak cukup hanya dengan dakwah, namun juga harus dikawal oleh jihad fi sabilillah. Allah ta’ala berfirman:

Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Seungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Al-haj: 40)

Imam Al-Qurthubi berkata, “Seandainya Allah ta’ala tidak mensyariatkan jihad untuk memerangi musuh, niscaya orang-orang musyrik akan berkuasa dan akan mengingkari seluruh syariat Allah. Akan tetapi,  Allah ta’ala mewajibkan jihad memerangi mereka agar kaum muslimin bisa leluasa dalam beribadah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 12/70)

Sama halnya dengan dakwah, perintah jihad juga akan terus berlangsung sampai tidak ada lagi kekufuran dan semuanya menjadi milik Allah semata. Dalam hadits disebutkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِيَ اللهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِيْ الدَّجَّالَ لاَ يُبْطِلُهُ جُوْرُ جَائِرٍ وَلاَ عَدْلُ عَادِلٍ
“Jihad akan terus berlangsung sejak Allah mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, ia tidak akan dihentikan oleh kejahatan orang jahat ataupun keadilan orang adil.” (HR. Abu Daud)

Kemudian dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa akan terus ada sekelompok umatnya yang senantiasa berpegang teguh kepada syariat Allah, dan ciri-ciri mereka adalah senantiasa berperang di atas kebenaran. Beliau bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى اْلحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang, hingga hari kiamat tiba.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam An-Nawawi berkata, “Kemungkinan,  kelompok ini terpisah-pisah dalam sekian banyak jenis kaum muslimin, di antara mereka ada yang pemberani sebagai pelaku perang, ada juga yang ahli fikih, ahli hadits, orang-orang zuhud, orang yang beramar makruf nahi munkar, ada juga pelaku kebaikan lain, tidak mesti mereka berkumpul menjadi satu, bisa saja mereka berpencar-pencar di berbagai belahan dunia.” (Syarh Shahih Muslim, 13/67)

Dakwah dan Jihad Harus Jalan Beriringan

Dakwah dan jihad memiliki tujuan yang sama, yaitu meninggikan Kalimatullah dan berusaha untuk menyadarkan manusia dari peribadatan kepada manusia menuju peribadatan kepada Allah semata. Keduanya harus saling bersinergi dan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Dakwah sangat dibutuhkan untuk penyadaran umat tentang kondisi kaum muslimin yang jauh dari syariat. Sedangkan jihad, menjadi pengawal dakwah dan sarana untuk menghadang konspirasi musuh yang mengancam eksistensi Islam sertu aktivitas dakwah itu sendiri.

Allah ta’ala berfirman:

“…Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya…” (Al-Hadid: 25)

Ibnu Taimiyah berkata, “Hendaknya pedang selalu menyertai kitab. Apabila telah muncul ilmu berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah, sedangkan pedang mengikutinya, maka urusan Islam akan tegak.” (al-fatawa, 20/ 393)

Jadi pedang bukanlah pilihan awal dalam menegakkan agama, ia hanya diperuntukkan kepada mereka yang membangkang dan tidak mau menerima seruan dakwah. Sehingga dalam fikih jihad disebutkan bahwa, salah satu adab perperangan dalam Islam adalah menyerukan musuh kepada Islam terlebih dahulu. Jikalau mereka menerima, maka peperangan dihentikan. Kemudian jika tidak, maka pilihannya adalah perang.

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi suatu kaum, kecuali beliau telah mendakwahi mereka.”(HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

Maka dari itu, tepat sekali ungkapan berikut ini “Islam akan tegak dengan tintanya para ulama dan darahnya para syuhada”.

Wallahu a’lam bis shawab!!

Penulis: Fahrudin/www.kiblat.net

Ulasan

Catatan Paling Popular

[PETUA] Zakar Panjang, Besar dan Air Mani Pekat dan Banyak.

KEPENTINGAN MENGULUM ZAKAR SUAMI

11 TANDA-TANDA WANITA BERNAFSU YANG MELAMPAU YANG HARUS ANDA KETAHUI..

Manfaat suami Menghisap Payudara Isteri

TEKNIK SPONTAN MENGGODA ISTERI

Sebab Sebenar Kenapa Suami Suka Peluk Isteri, Tahu Tak Apa Maksudnya.?

Cara Remove Friends Tak Aktif di Facebook

Antara Khilafah Islam dan Kemunculan Imam Mahdi

Khutbah Imam Katolik Yang Menggemparkan Dunia..

Catatan Popular Minggu Lepas

[PETUA] Zakar Panjang, Besar dan Air Mani Pekat dan Banyak.

KEPENTINGAN MENGULUM ZAKAR SUAMI

Manfaat suami Menghisap Payudara Isteri